Saat saia sedang bermeditasi di gunung Galunggirang untuk meminta wangsit agar bisa terus menulis untuk keabadian, saia dikejutkan oleh bunyi guruh gemuruh dari langit yang memekakkan telinga. Dan dari sumber suara tersebut, turunlah seekor kerbau bule yang dibalut selendang. Dengan anggunnya, kerbau tersebut menjejakkan keempat kakinya di tanah tepat dihadapan saia.

Posisi kerbau bule tersebut agak aneh, karena bukan wajahnya yang menghadap saia, melainkan pantat semok kerbau itu. Dan saat saia masih berada dalam kondisi shock, tiba-tiba dari pantat kerbau itu membuncah sebuah cahaya yang menyilaukan mata sehingga saia pingsan.
Saat saia tersadar, bukannya sedang berada didalam goa, melainkan berada didalam lorong yang langit-langitnya begitu tinggi dan dari sana, berpendar cahaya hijau temaram, sedangkan dinding goa saia -yang ditempeli oleh poster-poster Kangen Band- digantikan dengan dinding marmer hijau berornamen ular gemular yang saling lilit gemilit. Dan setelah melihat sekeliling, saia kemudian menyadari bahwa saia tidak sendirian diruangan tersebut.

“apa pedulimu bagiamana aku bisa selamat?” kata seorang anak kecil berkacamata dan anehnya mempunyai bekas luka sambaran kilat didahinya “Hoek Soegirang muncul sesudah zamanmu”

“Hoek Soegirang” jawab saia tanpa saia sadari, “adalah masa lalu, masa kini, dan masa depanku, Harry Potter…”

Kemudian, setelah pikiran saia dikejutkan oleh sebuah fakta yang tak terbantahkan bahwa saia sedang berhadapan dengan Harry Potter, entah kenapa tangan saia menarik keluar tongkat yang jelas-jelas bukan milik saia dari dalam saku dan saia pun mulai mencoretkannya diudara, menulis tiga satu kata yang berpendar-pendar disertai dengan spesial karakter hasil input dari Word Processor :

Soeharto™

“Jahh!!! Soeharto? kenafa Soeharto? bukannya ini adegan Harry Potter sama Tom Marvollo Riddle a.k.a Voldemort *berjengit* yang lagi di Kamar Rahasia!!!” saia memprotes, tetapi karena tenggorokan saia terasa tercekat, saia hanya bisa mendengar desisan samar keluar dari mulut saia. Dan lagi-lagi tanpa saia sadari, saia melambaikan tongkat itu sekali, dan huruf-huruf namanya berubah susunan

Soegirang™

Sebelum saia sempat protes atau setidaknya mendesis, tiba-tiba ruangan menjadi gelap, dan ketika itu, dikejauhan muncul setitik cahaya yang redup, yang makin lama makin membesar dan makin terang hingga saia menutup mata agar tidak silau, tetapi saia malah pingsan dengan sukses untuk kedua kalinya.

Kemudian, seperti halnya tadi, saia membuka mata sembari berharap-harap cemas, dan untungnya saia sudah berada didalam goa dengan dinding-dinding yang dipenuhi poster kangen band. Selain itu, kerbau bule yang sebelumnya setor pantat diwajah saia sudah menghilang entah kemana, tidak hanya meninggalkan rasa kecewa yang mendalam karena selain mendapatkan “penglihatan” yang busuk, juga meninggalkan seonggok kotoran yang jauh lebih busuk. ARRGGHHHH…!!!!!

~DISCLAIMER~

  1. Postingan ini didedikasikan untuk kerbau yang kabur saat 1 Suro kemarin dan juga Soeharto, untuk jasa dan dosa beliau :twisted:
  2. Postingan ini juga sebagai obat rasa sesal karena tidak mampu membeli novel Harry Potter edisi Boso Endonesa yang terakhir “Harry Potter and Deathly Hallows” yang ternyata sudah terbit di Purwokerto :cry: Walopun sebenerna saia suda melahap habis yang versi Boso Linggisna via pdf. :mrgreen: