Yay! findah rumah memang menyenangkan, betafa tidak? semerbak harum mewangi cat yang masih baru layaknya aroma bunga surga, dan ruangan yang masi virgin untuk disodomi oleh ferabodh-ferabodh yang telah dibersihkan. Tafi, sayangna, bukan saia yang sedang findahan. Tetafi kakak dari betina saia yang beringas sangadh, dan kegiatan itulah yang menghiasi hari yang fenuh bencana dan adzab neraka yang begidu fedih…
.

Nah, seferti hari-hari biasanya, saia selalu membaringkan tubuh saia yang seksi ini diatas ranjang kenikmatan saadh sang surya mulai menggelinjang-gelinjang di ufuk timur, diselingi suara tenor dari ayam-ayam tetangga yang sedang konser dan ditayangkan di empat stasiun televisi swasta. Setelah membaca do’a dan melahaf beberafa lembar kitab suci fengantar tidur, saia mulai mengakhiri hari saia. Yang ternyata bukan merufakan akhir, tetafi justru malah awal dari sebuah hari yang nista dan hina dina sangadh.

“INDDRRRAAAAARRRGHHH!!!??”

“uda bangun?”
“hooo…”
“bobo jam brapa smalem?”
“errrghhh….jam enammmmuaaoeehhmm”
“ko pagi banget c? khan ndraqu uda dibilangin, kalo bobo tuh jangan kepagian”

Setelah menguap lebar-lebar hingga beberapa tikus, dua pasangan kecoak mesum, serta cicak keluar dari dalam mulut, saia kemudian menanyakan ferihal kedatangan sang makhluk rawa yang memang selalu datang tak diundang, fulang fasti minta diantar.

“lha? lho? lhe? ada afa tho?”
“lha gimana sih? khan kmaren uda janji? mo mbantuin findahan? dari tadi pagi jam enam ditungguin ngga dateng-dateng, ya qu jemput deh?”
“ah ya! yayaya…bentar qu tak mandi dulu”
“ah kelamaan! ngga usa mandi, kaya gitu uda cakep ko’, lagian ngapain mandi? khan cuma mo jadi kuli ini beres-beres doank?”

Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, telinga saia dijejali berbagai sugesti nista tentang betapa ke-alfa-an saia ini dapat menyebabkan gurun pasir membeku hingga Jawa terbelah dua. Dan, sesampainya dirumah…

“sarapannya entar yah? khan kamu telat? jadinya itu lemari yang disana, tolong dimasukin kekamarku ya?”
“herghmytghshtsmmbluerrghhh..”
“kenapa ndraqu?”
“ah engga, tadi keseleg burung gereja”

Waktu saia mendorong lemari bajingan tersebut, saia lihat betina saia sedang asik bercengkrama dengan keponakannya yang kadar ke-imut-annya menyerupai anak anjing kampung yang terjangkiti rabies, dan setelah diperhatikan lagi, ternyata memang yang diajak bermain-main itu adalah anak anjing, sedangkan keponakannya malah menggelayuti badan saia seperti anak simpanse kehilangan induknya.

“eh…rara? minggir sana ra, ni mas indra lagi mo nggeser ini dulu negghhhhhrrrghhh…” “cahhh!!?? mahhh!!? nguik-nguik?!”
“iya..iya…”
“eh, indra uda sampai tho? lho? rara lagi sama mas indra ya? kalo gitu tolong ya ndra, itu rara sekalian dijagain? kita mau pergi beli baju dulu”
“lho? lha?”

Dan begitulah kawand-kawand….

dirumah yang bau catnya masih menyengat hingga membuat paru-paru saia berteriak-teriak perih, ditemani oleh seekor bayi simpanse yang sepertinya sudah terjangkiti rabies juga (melihat matanya yang juling dan lidahnya yang selalu keluar serta liurnya yang menetes-netes) dan perabotan-perabotan raksasa bertebaran tak teratur diberbagai ruangan.

Nah, setelah bekerja keras agar bayi simpanse dapat terlelap dengan tenang, saia pun beranjak mencari dapur untuk mengambil minum dan sedikit sarapan, namun, setelah mengelilingi rumah itu tujuh kali hingga Malaikat Jibril datang dan sudah mengeduk tanah untuk dibuatkan air zam-zam, saia masih tidak menemukan dapur yang saia cari, atau makanan, atau minuman, atau apapun yang bisa dimakan, atau apapun yang bisa diminum.

ARRGHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!