yak! jadi begini kawand-kawand semoa, walaupun sudah lewat beberapa hari, tetapi malam tahun baru bagi saia masih membekas teramat dalam di hati. Bagaimana tidak? Sebuah kenikmatan yang dapat menyebabkan seluruh impuls saraf saia menegang dan membuat hormon-hormon testosteron meningkat hingga saia selalu berada di ambang orgasme…
.

Bayangkan saja, pada saat tanggal 30 Desember tahun lalu, saia terserang flu berat sangadh hingga hidung saia yang mancung ini semakin tertarik kebawah hingga menyerupai gajah jongkok. Tetapi, betina peliharaan saia tetap merengek-rengek agar esok paginya (bagi yang fast reading, “besoknya” dalam kalimat ini berarti setelah tanggal 30 Desember, yaitu tanggal 31 Desember) kami bisa berbasah-basah ria di owabong – objek wisata air bojong kenyodh :mrgreen: – Dan tentu saja, sebagai pejantan sejati, walaupun ingus terus menetes tak henti, saia dengan sepenuh hati menyanggupi permintaan sang bidadari…

Dengan suplai ingus yang tertampung di hidung sebanyak 30 liter dan cadangan sekitar 30 galon dahak ditenggorokan, dan daya jangkau tenaga dorongan hidung sebesar 200 knot didalam air. Tentu saja pasti kawand-kawand semoa bisa menebak bagaimana kelanjutan cerita ini. Gyahahaha!!!

yak, walaupun pada saat kami datang, kolam renang di owabong sudah menyerupai penggorengan ikan teri. Tetapi pada saat saia masuk sembari membuang-buang ingus saia sembarangan, beberapa pengunjung terlihat pucat, dan bahkan ada pula yang muntah-muntah atau tergeletak pingsan…

Nah, singkat ceritanya, akhirnya saia dan betina saya bisa menikmati sebuah momen penuh kebahagiaan saat kami berenang berdua – walaupun entah kenapa kami berdua merasakan sedikit asin pada saat tidak sengaja menelan air kolam – tanpa ada yang menganggu di owabong yang waktu itu sudah seperti kota Pompey, hanya saja bukan abu yang menutupi bangunan dan bangkai-bangkai manusia, tetapi bangunan serta tubuh-tubuh manusia berbikini itu tertutupi lendir-lengket-ijo :evil:

Nah, setelah itu, dengan kondisi tubuh yang makin parah dan mendekati sakratul maut, saia mengajak betina saia yang sedang asik membuat kerajinan tangan dari lendir-lengket-ijo yang sepertinya keluar dari hidung gajah jongkok yang menempel tepat didepan wajah saia.
Sesampainya dirumah, entah telinga atau hidungnya yang kemasukan buaya, betina saia bersabda
“ndra, ntar tahun baru di baturaden yach?”
“jahh?”
“iya, khan aku belum pernah kesana, tahun kemarin cuma ke alun-alun doank?”
“jahh?”
“Nah, tapi sebelum kebaturaden, kita keliling-keliling dulu ya? ntar kita berangkatnya cepetan? sekitar jam 8, terus kita muter-muter dulu, ke alun-alun, terus ke GOR, abis itu makan bentar terus langsung ke baturaden deh? ya ndraqu ya? ya?!”
“ARRGHHHH…..!!!!!!!!!!”

Nahh, betul khan apa kata saia? kalo bukan telinganya, pasti hidungnya kemasukan buaya, apalagi coba? ko ya bisa saia yang sedang sakratul maut ini dipaksa buat menjelajah dan membelah lautan menusa dudut? Masih mending saia ini keturunan nabi Musa, lha wong keturunan manusia aja masih belum dapat dipastikan. Tetapi betina saia tetep keukeuh dan saia makin rikuh, hingga akhirnya pertahanan saia pun runtuh, apalagi saia suda diultimatum kalo kami bakalan rusuh :sad:

Kemudian pada saat jam 8 malam – setelah meminum 12 liter beras kencur dan 4 liter pertamax murni – saia dan betina saia keluar dari goa untuk menghirup udara segar…eh, maaf! bukan udara segar, tetapi udara dudut laknatullah syaithonirrojim. walaupun dalam hati saia cuma bisa berteriak-teriak memohon ampunan, dosa apa saia dulu, ko bisa dengan badan yang sudah hampir expired ini masih dipaksa buat ngadepin ribuan motor dan berjuta-juta kubik asap knalpot. Belum lagi mesti menggelinjang-gelinjang orgasmik saat harus mengakuisisi lahan sempit-nan-kosong didepan jalan.

Dan siksa pedih itu terus berlanjut, terlebih lagi jantung saia yang lemah dan sudah tiga kali bongkar pasang ini harus terus dikejutkan dengan selonongan dari para bajingan laknat tukang mabok ngga punya otak apalagi masa depan. Dan akhirnya, dengan berjuta-juta siksa yang bahkan lebih perih dari ancaman neraka. Kami pun tiba di Baturaden, dan saia berfirman kepada betina saia

“nah, nonton kembang apinya dimana?”
“ngga tau lho?”
“hah? ngga tau?”
“engga…”
“lha???”
“ya tunggu aja, dimana gitu, ntar khan keliatan”
Tunggu mbahmu!!?? tunggu dimanaarrghhh!!??? dikira Baturaden itu Mall? bisa buat duduk-duduk senderan sambil ongkang-ongkang kaki terus nyemil and ngrumpi? ini Baturaden woi!? tau diri napa? emang enak mesti nunggu diluar gini, mana masih jam setengah sebelas lagi?!!!

Tapi untungnya, paragraf diatas tidak jadi saia keluarkan dari lobang laknat dibagian bawah kepala saia. Setelah tau bahwa ternyata betina saia tidak hanya kemasukan buaya, tetapi juga biawak, simpanse, gorilla, dan bahkan orangutan. Saia kemudian menyambangi villa dimana kawand-kawand homok saia sedang akan mengadakan homok party (disponsori oleh effendi.com). Dan disitulah akhirnya kami menunggu sembari menonton salah satu kawand homok saia berstriptease ria didepan anjingnya. Dan bayud mana sih yang ndak akan terbuai melihat gerakan erotis macam begitu? Tetapi, bukannya ikutan bergoyang-goyang ria, saia malah makin terkantuk-kantuk, hingga akhirnya tewas tergeletak diruang tamu…
Dan pada saat saia membuka mata, betina saia dengan muka berbinar-binar memasuki ruang tamu sembari bersabda
“uda bangun ndra?”
“yay”
“met taun baru ya sayang?”
“hooo? emang uda tahun baru?”
“yup, setengah jam yang lalu?”
“kembang apinya?”
“barusan selse”
“ko aku ga dibangunin?”
“khan aku kasian ma sayank? kecapean gitu? skarang kita pulang yuk?”

Ya, dan akhirnya tahun telah berganti walaupun lagu di mp3 player saia masih tetap sama seperti dulu, dan entah kenapa lagu itu mengalun merdu waktu saia sedang cuci muka…

Pria dijajah wanita
Wanita seperti kamu
Tak berbisa layaknya
Wajahmu yg manis
Namun kau sadis