ehm…ehm…
tadi setelah saia blogwalking sebentar sambil menebar komen agar populer, saia melihat postingan ini yang menyoal tentang sastra. dan karena postingan tersebut…
sekarang saia kena sindrom Mendadak Prihatin Sastra
BWUAHAHAHAHA…
tapi bukan berarti saia mau nulis kisah sastra ataupun tentang sastra, kalau soal itu, ini nih ahlinya. sekali lagi, saia ni cuma mendadak prihatin sastra.
jadi begini, disekolah SMA saia itu, sudah tidak ada lagi jurusan sastra, begitu pula dengan SMA lainnya, dan kalau saia ingat-ingat lagi, sekarang ini di kota saia, malah sama sekali tidak ada jurusan bahasa lage! emang bener sih katanya pak sawali, bisa dibilang, sastra dan kawan-kawan hampir tidak menyentuh anak-anak sekolahan (a.k.a pelajar) sekarang ini.
yang saia lihat, pelajaran sekarang pun, lebih diprioritaskan kepada ilmu pengetahuan alam, sebangsa Fisika, Biologi, dkk, dan juga ilmu pengetahuan sosial, seperti Sosiologi, Ekonomi, Akuntansi, dll.
bukannya saia disini ingin merendahkan pelajaran-pelajaran tersebut, tapi saia hanya ingin menyamakan pelajaran bahasa dan sastra, setidaknya sama tingkatannya dengan pelajaran-pelajaran yang dinilai lebih “berkelas” tersebut.
akan tetapi, makin lama, sindrom cuek sastra makin meningkat dan sporadis (halah…bahasanya itu lho). soale, sebagai contoh aja nih ya, murid-murid kelas XII yang mo ngadepin UAN, pasti yang lebih digembleng itu Bahasa Inggris dan Fisika untuk anak jurusan IPA, sedangkan Bahasa Inggris dan Ekonomi Akuntansi untuk anak jurusan IPS.
Sedangkan? untuk Bahasa dan Sastra Indonesia? hal tersebut dipelajari ya cuma buat persiapan UAN doank, ngga lebih? saia juga masih inget banget ko, kalo setiap ulangan bahasa dan sastra indonesia tuh, ya cuma yang pinter doank yang belajar (itupun gara-gara obsesi jadi the most beloved student in da school), sedangkan yang lainnya?
“hah? ulangan bahasa indonesia? gampang lah…”
“uda, ngapain bkin contekan buat bahasa indonesia? mendink bkin contekan buat akuntansi, katanya ulangannya abis istirahat lho…”
“huahuahua, bahasa indonesia? sorry aja nih ya, I’m on english only. Indonesia? waddefak!”
nah, jadi walopun emang ada yang belajar, tapi sekali lagi, belajar cuma buat ulangan doank, sedangkan yang ndalemin – atau setidaknya ngerti dikit – sastra, uda sedikit, atau bahkan NOL!
selain itu, buat pelajar yang emang minat di Sastra, mereka sama sekali ngga dipuji sebagai calon sastrawan, tetapi lebih banyak diomongin sebagai “orang-yang-cuma-punya-modal-pede-buat-tereak-tereak-waktu-mbaca-puisi”
atau yang lebih parah lagi,
“lelaki/wanita-melankolis-yang-ngesok-berkahlil-gibranisme-padahal-puisinya-ga-punya-makna”
(kedua cap itu nempel dijidat saia juga…*curhat mode on*)
dengan mengatakan hal tersebut diatas, bukan berarti saia ini pengen dihormati sebagai calon sastrawan tenar di muka bumi. tetapi, yang saia ingin sampaikan adalah, bukankah stempel itu malah merendahkan para peminat sastra, sehingga mereka jadi segan untuk menekuni sastra secara lebih mendalam?
selain itu, sekarang ini bibit-bibit sastrawan di kalangan anak muda pun tidak begitu dihargai, lebih baik dicap sebagai anak-pintar-yang-kuper daripada anak-ngesok-sastra-yang-gaul. kalangan anak muda kota saia sekarang ini kelihatannya lebih memandang anak-yang-motornya-dimodif, atau anak-basket-yang-bisa-three-poin-sekali-lempar, atau anak-skater-yang-bisa-grind-di-tiang-bendera, atau..ah sudahlah…makin ngrekes saia kalo mikirin soal gitu.
jadi, kesimpulannya, jika ditanya “apa kabar sastra di sekolah?”
maka jawabannya, “maaf mas, si sastra lagi absen, katanya lagi jalan-jalan ke belanda…”









3 comments
Comments feed for this article
Agustus 30, 2007 pada 6:52 pm
Sawali Tuhusetya
Hahahahaha
Sungguh sebuah pengalaman yang menyesakkan dada sekaligus juga mengharukan, Bung. Tapi itulah kenyataan ironis yang terjadi di sebuah negeri yang konon sejak dulu dihuni oleh penduduk yang ramah, santun, dan beradab. Namun, ironisnya komponen-komponen pendukung (wuih!) untuk mendukung kokohnya pilar2 peradaban tadi mulai dipreteli. Lihat saja Bung, di jalanan premanisme, tawuran antrapelajar, dan semacamnya seolah sdh jadi pemandangan biasa. Masyarakat pun bersikap permisif dan cuek. Kekuatan kontrolnya telah rapuh sehingga tak menjadi penjaga gawang moral bangsa. Di rumah, orang tua sibuk mengurus perkara dunia sehingga takl sempat lagi mencurahkan perhatian dan kasih sayang secukupnya kepada putra-putri tercinta. Sekolah yang diharapkan mampu menjadi “benteng” terakhir untuk membekali para murid dengan berbagai macam nilai luhur hakiki dinilai juga telah mandul. Yang lebih menyedihkan, mata pelajaran yang berkaitan dengan nilai-nilai dan ajaran moral –termasuk sastra– seringkali mendapatkan stigma sebagai mata pelajaran pelengkap penderita. Sempurnalah penderitaan yang harus ditanggung oleh dunia sastra kita. Padahal sejatinya dengan banyak membaca karya sastra, paling ngggak nih, kita selalu dipancing agar tidak terjebak dan tergoda untuk melakukan tindakan terpuji yang dapat meruntuhkan moral bangsa.
Ok, Bung, trims, salam hangat dan salam budaya.
Agustus 30, 2007 pada 7:20 pm
hoek
waaahh…senenkna, akhirnya ada yang dateng berkunjung ke blog inih…wah, makasi banget…
*lompat-lompat*
btw, mkasih juga atas tambahannya, emang bener ko, seluruh komponen pendidikan terhadap sastra sekarang ini uda…yah, bisa dibilang ga ada respek sama sekali.
Februari 22, 2009 pada 1:21 am
Dronderce
jhg$# ,
cheap soma online, buy tramadol online, buy lorazepam online, cheap generic valium, fioricet online, hoodia diet, norco drug, ultram er, ultracet, discount xenical,